Arti Kemerdekaan buat “Juve”
Juve si Elang Jawa Spizaetus bartelsi muda kembali bebas
17 Agustus, pagi itu, setelah selesai diskusi-diskusi kecil di Suaka Elang dan berpamitan dengan Budi dan Tobing, kami bergegas meluncur dari Resort Salak I menuju ke Tapos, tempat dimana semua ujung usaha kebebasan buat 1 elang jawa akan dimulai. Setelah sebelumnya “Tim Merah” (Gunawan, Mas Edy, dan Irfan), mendahului kami. Hari bersejarah buat ”Juve” sebutan elang jawa betina yang akan dilepasliarkan tersebut, berasal dari kata ”Juvenile” (muda). Toh, walau semalaman aku merasakan sakit gigi yang lumayan nyeri. Tapi karena semangat yang berkobar aku tetap meluncur ke Tapos, kawasan yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Gedepangrango, via Cigombong lebih dekat, sembari cari apotek di kanan kiri dan alhasil di sepanjang Lido, kami menemukan setelah sekian lama mencari. Lumayan buat menahan rasa sakit gigiku. Aku disarankan Mono untuk membeli ”Asam Mefenamat” sekedar untuk sementara waktu, setidaknya mengurangi nyeri. Pukul 12.45an, kami baru sampai di Tapos, karena memang barus mutar-mutar mencari apotik yang buka, susahnya bukan main. Maklum, tanggal merah.
”Juve” sudah menghuni salah satu titik di Tapos, bagian yang berbatasan dengan lereng Gunung Gedepangrango, itu salah satu yang menjadi pilihan tempat. Dengan ketinggian sekitar 950-1500 mdpl, wilayah Tapos telah dikaji dan dinyatakan layak menjadi pelepasliaran ”Juve”. ”Juve” telah melalui pengecekan, termasuk kesehatan, perilaku berburu, perilaku sosial, ataupun perilakunya secara umum. Diamati terus menerus, sampai dinyatakan ”Juve” siap ”merdeka”. Kurang lebih 700 Ha, ranch yang dihuni sapi perah dan sapi potong kami lalui di untuk menuju ke lokasi ”Juve” berada, tak pelak lagi aroma apa yang ditimbulkan. Kurang lebih seminggu ”Juve” di habituasi disitu. Ukuran kandang sekitar 2,5×5m dengan tinggi sekitar 5m, menurut kami terlalu kecil, tapi ya apa boleh buat sudah sedemikian rupa dipinjamkan dan dipasang untuk dipergunakan. Kang Usep, Gunawan, Mas Edy, Irfan, dan Pak Nyoman, Asman, Annisa, serta kawan-kawan dari Taman Nasional sudah duluan mengecek kondisi kandang ketika kami bertemu di tengah jalan di ujung Tapos. Kamipun kembali berdiskusi di kantor Tapos, bagaimana baiknya ”releasing” besok. Karena ternyata, akan dihadiri orang nomer satu di jajaran Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam-Departemen Kehutanan, RI. Tidak tanggung-tanggung Bung, Dirjen datang.
Kami sepakat, untuk membuat pintu keluar sederhana buat ”Juve” agar besok pagi mudah untuk lepas ke alam, walau terlambat dan beresiko, tapi itu perlu. Dan, pukul 16.00 WIB sudah kami mulai berjalan kembali ke lokasi kandang ”Juve”, putar otak gimana caranya ”Juve” tidak stress dan bisa dengan mudah merdeka. Kami mulai pelan-pelan, satu-persatu memotong jaring kandang dan sesegera mungkin menyulam. Mata ”Juve” tidak bisa membohongi kami, untuk segera merdeka. Hujan tak dapat kami hindari, dan terus berjatuhan. Demi ”Juve” kami lanjut mengerjakan yang bisa kami lakukan, tak kami hiraukan, tetesan demi tetesan hujan membasahi kami. Pukul 17.30 kami baru usai, dan hujanpun mulai reda, setelah memastikan semuanya aman, kami kembali ke mess sambil jalan, kami mencoba radio transmiter. Gigiku kembali berulah, kedinginan tak terbantah, nyeri. Setelah memastikan kondisiku yang ”drop”, teman-teman mulai melakukan patroli. Aku tidak bisa menemani teman-teman melakukan patroli di sekitar kandang ”Juve” karena 17 malam itu, bener-bener kondisiku drop di mess.
Tanggal 18, pukul 08.30, kami, bergegas menuju aula. Pagi ini, jam 09.15 dimulailah acara seremonial yang dihadiri oleh berbagai institusi, pemerintah dan LSM. Dan setelah itu, mulai bergegas ke lokasi kandang, dengan persyaratan tidak semua undangan seremonial boleh ke tempat ”Juve” demi kondisi ”Juve” sendiri. Dan pada akhirnya, tanggal 18 Agustus 2009 pukul 10.02 WIB di jam kami, ”Juve” kembali ”Merdeka” kembali ke alam aslinya. Buat kami bukan acara seremonialnya yang menjadi penting, tapi bagaimana ”Juve” segera menikmati kebebasannya dan bagaimana dia terhindar dari ancaman yang setiap saat akan kembali merenggut kemerdekaannya. Tanggal 18 menjadi tanggal bersejarah buat ”Juve” dan juga para sahabat elang, termasuk dukungan kedua Taman Nasional dan LSM. Kembali menjadi tugas yang tidak ringan untuk memastikan ”Juve” menikmati kebebasan di alam aslinya dengan melakukan pamantauan secara berkala. Kerja keras para sahabat elang yang begitu banyak, tiada bisa disebutkan satu-persatu, setidaknya sampai hari ini telah membuahkan hasil, terima kasih para sahabat, jasamu abadi untuk “Juve”. Bahagia melihat salah satu elang jawa kembali hidup bebas di alam. Selamat berjuang dan terbang menembus angkasa ”Juve”, selamat menikmati kemerdekaanmu yang sesungguhnya. ….MERDEKA!!!!!!
Teks dan Foto © Agutinus Wijayanto




