Bermain Belajar Bersama Suaka ELang, Raptor Sanctuary and Education Centre
Raptor adalah istilah lain atau terminologi untuk sebuah komunitas burung pemangsa, sementara dalam bahasa Indonesia kelompok ini lebih dikenal dengan nama elang. Keberadaannya selalu menarik untuk diperhatikan baik mengenai kehidupannya maupun hubungannya dengan manusia. Kelompok ini memiliki fungsi yang sangat penting dalam sebuah ekosistem yaitu sebagai Pemangsa Puncak (Top Predator). Peranan yang dijalani kelompok burung ini memungkinkan interaksi yang tinggi dengan manusia, oleh sebab itu sebagian besar masyarakat di Indonesia telah mengenal jenis burung ini sejak lama dalam kehidupan sehari-hari dengan istilah Garuda, Rajawali, Jatayu dan sebagainya.
Ironisnya, saat ini hampir sebagian besar permasalahan yang dihadapi oleh dunia konservasi adalah kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya peran burung pemangsa serta habitatnya bagi kehidupan.
Untuk mendukung pelestarian burung pemangsa, Suaka ELang mencoba meminimalisir terjadinya eksploitasi burung pemangsa dan habitatnya dengan melakukan kegiatan pendidikan lingkungan hidup di sekolah-sekolah dasar yang ada di sekitar Suaka Elang.
Penyadartahuan tepat sasaran hanya dapat dilakukan melalui pendidikan lingkungan hidup dengan campur tangan sekolah-sekolah sebagai lembaga pendidikan resmi yang menciptakan generasi-generasi mendatang yang berkualitas dan sadar lingkungan.
Metode yang dilakukan adalah bermain dan belajar. Tahapan dilakukan dengan perkenalan, pemberian materi tentang hutan, lingkungan dan elang, pemutaran film tentang lingkungan dan Games-games yang berkaitan dengan Lingkungan. Untuk mengukur pemahaman, siswa-siswi diwajibkan melakukan pra dan post tes dasar sesuai dengan tingkatannya.
Antusiasme peserta sangat baik, karena metode yang digunakan tergolong baru yaitu dengan melakukan pemutaran film lingkungan dan menggunakan games lingkungan sebagai pendekatan, maka peserta yang terdiri dari sekolah dasar kelas 3, 4 dan 5 sangat senang mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. Antusiasme itu terlihat juga dari presensi yang tidak pernah kurang dari 50 orang murid di setiap sekolah. Pemutaran film lingkungan merupakan bagian yang dinanti-nanti oleh peserta kegitaan. Film yang berjudul “Turtle Word” di pilih karena tema yang diangkat cukup ringan dan gambar yang di tampilkan juga mengunakan kartun animasi dengan pesen yang jelas. Film berdurasi 15 menit ini bercerita tentang sekelompok kera yang hidup di atas punggung kura-kura besar, dimana di atas punggung tersebut tumbuh pohon yang lebat sebagai perwujudan dari hutan alami sebagai habitat alami bagi kera-kera tersebut. Kura-kura yang di tumbuhi pepohonan tersebut pun bergantung pada pepohonan sebagai makanan untuknya. Awalnya mereka hidup dalam kesedarhanaan, namun karena keserakahan kera-kera tersebut maka mereka berlomba-lomba untuk membuat bangunan se megah-megahnya dengan bahan baku yang di ambil dari hutan tempat mereka hidup. Karena eksploitasi besar-besaran maka pohon tempat hidup mereka pun habis ditebang. Sehingga kura-kura yang juga menggantungkan hidupnya dari poho-pohon yang hidup di punggungnya pun tidak lagi mendapatkan makanan. Akhir dari cerita film tersebut adalah kura-kura tersebut tidak dapat makan dan mati.
Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama berbagai pihak diantaranya Dinas Pendidikan UPTK Kecamatan Cigombang sebagai lembaga otoritas daerah di kecamatan tersebut, Y-Bul (Yayasan Bina Usaha Lingkunga), YPLK3 (Yayasan Pendidikan lingkungan, kesehatan dan kesejahteraan Keluarga), Voluntary Action Society (VAS) serta didukung PT. Chevron Geothermal Salak serta pihak sekolah-sekolah tempat berkegiatan.







