19 May 2012 | Email TemanCetak    

Catatan Perjalanan Sahabat Elang

“Demi melihat elang”

Oleh: Agustinus Wijayanto

Minggu 18/04/2010. Setelah cukup dirasa cukup obrolan ringan di “basecamp” Ciapus bersama sahabat elang, Asman, Mono, Gunawan “Mbek”, Ayut, dan Agung, kami putuskan untuk segera meluncur ke Suaka Elang. Malam itu, kami ber 3, Mono,Agung, dan aku, berjibaku dengan menggunakan dua sepeda motor menuju ke Suaka Elang di Desa Loji, tepatnya di Resort Salak 1. Sehabis hujan nampak jelas saat malam kami memasuki gerbang Suaka Elang karena lumpur becek, ban motor harus terpeleset kesana kemari untuk mencapai resort. Jam 20.30 malam kami ber 3 akhirnya sampai di lokasi. Sambutan Seva kemudian Budi yang kami kenal pun datang menyapa kami dengan hangat. Kopi panas buat kami bertiga segera hadir menemani malam. Kabut lambat laun turun menambah suasana hening di Salak I. Namun malam itu, Mono dan aku mencoba untuk mencoret-coret ide untuk mengembangkan wahana pendidikan lingkungan. Menangkap sebuah peluang walau mungkin belum bisa menjawab bagitu banyak persoalan pelestarian satwa liar, terutama “raptor”. Setidaknya, sudah ada agenda sementara jika ada orang datang dan ingin tau tentang elang dan lingkungan hidup. Disatu sisi, keinginanku tak terbendung untuk esoknya bisa melihat elang. Semoga..

Jam 06.00 aku sudah bangun, mempersiapkan segala sesuatu untuk “trekking” hingga air terjun Cibadak yang berjarak sekitar 1.200 m dari resort. Lumayan cerah pagi itu dan jam 07.00 kami bertiga sudah berjalan sambil sesekali berhenti memperhatikan sekeliling dan mengabadikan beberapa potensi alam disana. Namun pengelihatanku tertuju di demplot tanaman obat yang terletak diantara pondok jaga dan camping ground yang menurutku perlu menjadi perhatian serius jika memang akan menampilkan sebuah potensi yang akan dilihat banyak pengunjung. Kami bertiga terus berjalan hingga ke “Shelter I” dan belum juga terlihat elang yang terbang. Beberapa kali pandangan kami arahkan ke atas tebing depan kami yang berhadapan dengan “Shelter I”. Perjalanan kami lanjutkan sambil terus memantau perkembangan di atas. Dan sekitar jam 07.40an kami melihat ada sesuatu yang bergerak di atas pohon dan dengan menggunakan binocular terlihatlah 1 ekor anakan sang garuda bertengger.

“Itu elang jawa yang masih muda Mas”, jelas Mono kepada ku.

Aku mulai penasaran dan terus mengamati dengan binocular. Mono mencoba mengarahkan kameranya untuk membidik elang jawa tersebut walau memang tidak bisa dipaksakan untuk mendapatkan gambar dan angle yang bagus. Kamerakupun tidak bisa melakukan itu, sayang memang, namun itulah kondisinya. Elang Jawa Spizaetus bartelsi tersebut kemudian terbang dan menukik mencari hinggapan lain. Manuver ini mencoba diabadikan oleh Mono. Di lain sisi di sebelah kiri tebing, sang elang hitam nampak pula bermanufer. Cukup puas mengamati manuver ke dua elang tersebut, kami melanjutkan berjalan menuju “Shelter II” sambil tetap memantau ke dua elang tersebut yang sesekali menghilang melayang ke tebing sebelahnya.

Memotret Burung

Selama perjalanan ke atas di “Shelter II” beberapa kali muncul 2 ekor Elang Hitam Ictinaetus malayensis nan indah. Lama kami mengamatinya hingga pelan-pelan kabut tipis turun. Karena asiknya melihat elang diketinggian, Mono terpeleset di tebing. Untung tidak ada luka yang berarti. Demi melihat elang, pagi hingga siang itu kami kembali menyururi jalan setapak menuju air terjun Cibadak. Di sela-sela istirahat kami di “basecamp”, kami ngobrol-ngobrol ringan dengan Pak Ahmad seputar temuan kami tadi pagi. Setidaknya, burung garuda dan teman-temannya masih dapat dijumpai disini. Namun di sisi lain, kegundahan terus membayangi saat perjalanan turun menuju “basecamp”, sampai kapan kebebasan itu ada pada sang elang agar tetap bisa terbang bebas di alam…… nasib mereka, tergantung pada kita semua yang perduli dengan keberlangsungan hidupan liar dan habitat di dalamnya.

teks @ AW