Mencari Jejak Sang Garuda
By: UCil
Teriknya matahari menemani perjalanan tim kali ini, Memulai aksi petualangan konservasi dengan perbekalan yang lengkap, mulai dari logistik pribadi dan peralatan pengamatan tim.
Setahun yang lalu si joni, seekor Elang Jawa dewasa (Spizaetus bartelsi) di kembalikan kehabitatnya di lokasi penambangan emas milik ANTAM di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Bukan hal yang mudah untuk mengenali kembali Si Joni setelah 1 tahun. Perbedaan Joni dengan Elang Jawa lainnya hanya bias tim kenali dari sejenis kain khusus (marker) yang terpasang di sayap kanan joni sebelum ia di lepasliarkan. Tantangan bagi tim untuk memburu kembali jejak Joni Sang Garuda.
Bermarkas di Camp Geomin, sebuah camp milik PT. Aneka Tambang. Tim mulai menyiapkan segala macan peralatan tempur para pengamat burung seperti Monocular, Binocular, Camera DSLR dan logistic lainnya untuk keperluan esok hari.
Langit yang cerah, yah!!! itulah modal dasar yang tim butuhkan untuk menemukan jejak Joni. Sama halnya dengan burung Pemangsa di urnal lainnya, joni juga menggunakan panas bumi (thermal) untuk dapat membantunya terbang melayang-layang tinggi. Aktivitas yang hanya bisa dilakukan pada hari yang cerah saja, dan jika cuacanya mendung kebanyakan para burung pemangsa hanya bertengger pada dahan pohon yang rimbun dan tinggi.
Mengandalkan keberuntungan dan bermodalkan keyakinan, tim pun mulai bergegas menuju lokasi yang sudah dipetakan sebelumnya, yakni di tikungan jalan cermin ke 2 setelah camp Geomin. Tidak lama waktu berselang, tim sudah disambut dengan pekikan khas burung-burung pemangsa raja langit semesta ini. Elang Ular Bido (Spilornis cheela), Elang Hitam (Ictinaectus malayensis), dan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) menampakkan gaya terbang masing-masing dengan luwesnya mengudara di langit biru. Tapi itu semua bukan Joni yang kami cari. Sore mulai menyapa, joni tak kunjung nampak hingga tim memutuskan untuk mengakhiri perburuan di hari pertama.
Hari kedua tim berangkat lebih pagi dari hari sebelumnya untuk mengantisipasi jam terbang Joni yang keluar lebih awal. Menurut informasi masyarakat sekitar lokasi pelepasan Joni, pernah terlihat Elang Jawa yang memangsa anak ayam milik masyarakat sekitar 2 minggu lalu. Di dorong Rasa penasaran menelusuri kebenaran informasi tersebut.
Benar saja, baru beberapa meter meninggalkan camp, nampak dari jauh terbang 2 ekor burung pemangsa terbang melesat dari arah kejauhan. Peralatan yang terkalung di leher mempermudah gerak dan antisipasi. Ya, itu Joni, saya masih mengenalii Wing tag putih di sayapnya, ujar salah seorang anggota tim. Namun sayang, karena objek yang jauh dan meluncur cepat sehingga terhalang bentang alam perbukitan, tim yang ternganga melihat joni yang terbang melesat tidak sempat mengabadikannya. Rasa haru karena telah menemukan joni bercampur penyesalan karena tidak dapat mengabadikan joni bergejolak berkumpul menjadi satu sampai akhir monitoring.
Rasa penat, gelisah, penasaran dan kekecewaan jelas sekali membayangi hari-hari tim yang beranggotakan 4 orang ini. Jelas saja, tidak habis pikir Joni Si Elang Jawa yang kami lepaskan setahun lalu selama 4 hari penantian tidak lagi menampakkan dirinya. Banyak faktor yang mempengaruhi tim tidak dapat menemukan keberadaan Joni, antara lain areal kawasan perbukitan yang sangat luas dan sifat alami Elang Jawa yang sensitif terhadap keberadaan manusia. Namun kami tetap optimis bahwa Joni masih dapat bertahan hidup dan menjalankan fungsinya di alam Sebagai Top Of Predator.
photo: ucil, udin, mono, duduy
laporan versi penuh dapat di unduh di sini
https://dl-web.dropbox.com/get/Laporan%20Pelepasliaran%20Elang%20Jawa%20Pongkor.pdf?w=b4751627







