Penanaman Pohon di kawasan Suaka Elang, Resort Salak I Balai Taman National gunung Halimun salak
Kerjasama multi pihak dalam upaya konservasi sumber daya alam sangat penting dilakukan, mengingat hal tersebut tidak hanya semata-mata tanggung jawab pemerintah melainkan juga tanggung jawab semua pihak.
Sabtu 22 Januari 2011 yang lalu, Kementrian Kehutanan bekerjasama dengan Gunma Safary Park World Co, Ltd dan Taman Safari Indonesia melakukan kegiatan rehabilitasi lahan, adopsi pohon dan penanaman pohon puspa di lokasi Suaka Elang, di Resort Salak 1 Taman Nasional Gunung Halimun Salak, sebagai wujud dari kepedulian terhadap konservasi di Indonesia. Penanaman pohon dilakukan secara bersama-sama oleh perwakilan dari para undangan.
Taman Nasional Gunun Halimun Salak selaku tuan rumah mengundang berbagai elemen lembaga dan masyarakat, di antaranya adalah Konsorsium GEDEPAHALA, Javan Gibbon Centre (JGC), Conservation International-Indonesia Programme (CI-IP), Suaka Elang dan Taman Safari Indonesia (TSI), Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGP), perangkat desa setempat, Chevron Geothermal Salak (CGS), PT. Antam.Tbk, dan Japan International Coorporation Agency (JICA).
Gunma Safary merupakan salah satu lembaga konservasi di Jepang yang secara nyata memberikan perhatian dukungan langsung terhadap usaha konservasi di Indonesia. Dukungan yang telah diberikan secara rutin setiap tahun salah satunya adalah donasi untuk program adopsi pohon di beberapa kawasan konservasi di Jawa Barat. Untuk tahun ini, program adopsi pohon dilakukan di kawasan Taman nasional Gunung Halimun Salak. Hal ini sangat penting dilakukan mengingat peran kawasan ini sebagai salah satu daerah tangkapan air (catchment area) bagi kawasan di sekitarnya, termasuk Jakarta dan sekitarnya. Kerusakan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak akan berakibat fatal terhadap ketersediaan air di daerah sekitarnya.
Sebagai taman nasional terluas di Jawa, kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak juga sangat penting sebagai salah satu habitat terakhir bagi berbagai satwa endemic Jawa seperti Elang jawa (Nisaetus bartelsi), Kukang jawa (Nycticebus javanicus) , Owa jawa (Hylobates moloch Audebert, 1798), surili (Presbytis comata), lutung (Trachypithecus auratus) dan Macan tutul (Panthera pardus). Bahkan kawasan ini dinyatakan sebagai kawasan yang mempunyai populasi terbesar di dunia.
Oleh karena itu, usaha konservasi habitat juga menjadi hal yang sangat penting mengikuti usaha konservasi species.
Naskah : Hendry Pramono & Gunawan Potho : © hendry_mono/ Suaka ELang







